Minggu, 03 Januari 2016

FILOSOFI MOTIF BATIK DI JAWA



 

              Sedemikian uniknya tatanan busana yang terkait erat dengan adat dan tata sopan santun orang jawa dulu, demikianpun dalam pemakaian kain batik sebagai busana kebesaran harus mentaati segala peraturaan yang berlaku. Misalnya pemakaian kain batik untuk kalangan wanita harus menutupi mata kaki. Kalau memakai kain batik jauh lebih tinggi dari mata kaki, hal itu bisa diartikan wanita tersebut tidak paham adat, serta kurang paham kesopanan. Pakaian lembaran kain batik dimulai dari ujungnya masuk ke sebelah kiri pinggang pemakainya, dan ujung kain batik lainnya melingkari tubuh ke arah kanan. Sehingga ujung kain batik yang (diwiru-profil lipat) berada paling atas dan ke arah kanan pinggang pemakainya.
          Ini berbeda dengan cara pemakaian kain batik bagi kaum pria. Dimulai dengan memasukkan ujung kain batik ke bagian kanan pinggang, lalu ditutupi kain batik yang melingkari pinggang memutar ke kanan, lalu ke kiri. Sehingga ujung kain batik yang dilipat-lipat (diwiru) berada di tengah menghadap ke kiri. Bagian atas kain batik (bagian pinggang) diikat dengan ikat pinggang (epek) serta kain pengikat pinggang yang panjang. Bagian ini tertutup oleh kain benting (ikat pinggang panjang) yang terbuat dari kain beludru bermotif kembang-kernbang. Kemudian tertutup oleh baju kebaya (untuk kaum wanita), atau beskap (untuk kaum pria). Dengan mengenakan busana Jawi lengkap termasuk sebilah keris yang terselip di lipatan ikat pinggang, dengan kepala ditutup blangkon (kuluk) untuk kaum pria, terasalah kebesaran jiwa.
          Sementara kaum wanitanya dalam panutan busana batik dengan kain kebayanya yang membentuk potongan tubuh yang indah, terasakan keagungannya. Di luar upacara tradisional, misalnya pada suatu pasta perkawinan di luar keraton, kemeja batik atau gaun batik dengan pelbagai corak motif dan warnanya sudah merupakan busana resmi. Keanggunan seni batik tidak saja struktur warnanya yang serasi, juga corak lukisan batiknya yang penuh berisi filosofi dan penuh ragam sekaligus memberi ciri khas nilai seni budaya Jawa serta kebanggaan nasional
SENI BATIK
          Seni batik pada dasarnya merupakan seni lukis dengan  bahan: kain, canthing dan malam ‘sebangsa cairan lilin’. Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis, titik atau cerek, sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik.
          Masih bertahannya seni batik sampai jaman moderen ini, tidak dapat dilepaskan adanya kebanggaan, adat tradisi, sifat religius dari ragam hias batik, serta usaha untuk melestarikan pemakai batik tradisional dan tata warna tradisional. Dilihat dari proses pembuatannya ada batik tulis dan batik cap. Dengan semakin berkembangnya motif dan ragam hias batik cap, mengakibatkan batik tulis tradisional mengalami kemunduran. Hal ini dapat dimengerti sebab batik tulis secara ekonomis harga relatif mahal dan jumlah pengrajin batik tulis semakin berkurang.
          Sekarang ini ada beberapa daerah yang masih dapat dikatakan sebagai daerah pembatikan tradisional. Daerah yang dimaksud antara lain:Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Indramayu, Garut, Pekalongan, Lasem, Madura, Jambi, Sumatera Barat, Bali dan lain-lain.
          Surakarta atau Surakarta Hadiningrat juga dikenal dengan nama Solo merupakan ibukota kerajaan dari Karaton Surakarta Hadiningrat. Surakartamerupakan pusat pusat pemerintahan, agama dan kebudayaan. Sebagai pusat kebudayaan Surakarta tidak dapat dilepaskan sebagai sumber seni dan ragam hias batiknya. Ragam hias batik umumnya bersifat simbolos yang erat hubungannya dengan filsafat Jawa-Hindu, misalnya :
a)      Sawat atau hase ‘sayap’ melambangkan mahkota atau perguruan tinggi.
b)      Meru ‘gunung’ melambangkan gunung atau tanah
c)      Naga ‘ular’ melambangkan air (tula atau banyu)
d)      Burung melambangkan angin atau dunia atas
e)      Lidah api melambangkan nyala api atau geni
          Penciptaan ragam hias batik tidak hanya memburu keindahannya saja, tetapi juga memperhitungkan nilai filsafat hidup yang terkandung dalam motifnya. Yang dalam filsafat hidup tersebut terkandung harapan yang luhur dari penciptanya yang tulus agar dapat membawa kebaikan dan kebahagiaaan pemakainya. Beberapa contoh :
a.  Ragam hias slobong, yang berarti agak besar atau longgar atau lancar yang dipakai untuk melayat dengan harapan agar arwah yang meninggal dunia tidak mendapat kesukaran dan dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
b.  Ragam hias sida mukti, yang berarti ‘jadi bahagia’, dipakai oleh pengantin pria dan wanita, dengan harapan agar pengantin terus-menerus hidup dalam kebahagiaan.
          Dengan demikian dapatlah dinyatakan bahwa ragam hias dalam seni batik aturan dan tata cara pemakainya menyangkut harapan pemakainya. Disamping itu, khusus di Karaton Surakarta, ragam hias batik (terutama kain batik) dapat menyatakan kedudukan sosial pemakainya, misalnya ragam hias batik parang rusak barong atau motif lereng hanya boleh dipakai oleh raja dan putra sentana. Bagi abdi dalem tidak diperkenankan memakai ragam hias tersebut.
          Seni batik bagi Karaton Surakarta merupakan suatu hal yang penting dalam pelaksanaan tata adat  busana tradisional Jawa, dan dalam busana tradisional  ini kain batik memegang peranan yang cukup penting bagi pelestarian dan pengembangan seni budaya jawa kedepan  
Kain Batik Tertentu Dipercaya Daya Gaib Kepada Pemakainya.
          Jangan sembarang memakai batik, motif batik tertentu dipercaya memberikan kekuatan pada pemakainya. Maka si pemakai juga bukan orang sembarangan, batik jenis itu disebut batik larangan.
          Batik larangan banyak tersebar di Yogyakarta, Surakarta danCirebon. Di tiga daerah itu ada karaton yang dihuni oleh para Sultan. Disana batik berperan penting dalam upacara tradisional karaton. Pelbagai motif khusus masih diakui menjadi milik karaton antara lain : Kawung Parang, Cemukiran, Udan Liris dan Alas-Alasan.
Kawung
          Corak ini bermotif bulatan mirip buah kawung (sejening kepala) yang ditata rapi secara geomatris. Palang hitam-hitam dalam bulatan diibaratkan biji kawung untuk orang Jawa, biji itu lambang kesuburan.
          Motif kawung juga bisa diinterprestasikan sebagai gambar lotus (teratai) dengan empat lembar daun bunga yang merekah. Lotus melambangkan umur panning dan kesucian.
          Beberapa variasi kawung adalah ceplok, truntum dan sidomukti. Salah satu variasi lain tumbal, diperuntukkan kaum brahmana dan cendekiawan.
Parang
          Corang itu berpola pedang yang menunjukkan kekuatan atau kekuasaan, karenanya batik bercorak parang diperuntukkan para ksatya dan penguasa. Menurut kepercayaan, corak parang harus dibatik tanpa salah agar tak menghilangkan kekuatan gaibnya.
          Kalau berpola pisau belati atau keris , batik bercorak parang boleh dipakai oleh tiap orang dan dipercaya membawa rezeki dan menjauhkan dari penyakit. Variasinya : Parang Rusak, Parang Barong dan Parang Klitik.
          Komposisi miring pada parang menandakan kekuatan dan gerak cepat, yang dipercaya memberi kekuatan magis pada batik bercorak parang itu adalah mlinjon, pemisah komposisi miring berbentuk seperti ketupat.
 Sawat
          Corak ini ditandai dengan lukisan sayap atau lar, baik yang berpasangan maupun yang tunggal. Sayap itu mengibaratkan garuda, menurut mitologi Hindu-Jawa, garuda adalah burung yang bertubuh dan berkaki seperti manusia, namun bersayap dan berkepala seperti burung. Corak parang yang diberi tambahan lar garuda hanya boleh digunakan oleh raja dan putranya.
Batik Sebagai Busana Dalam Tatanan dan Tuntunan
          "Rum Kuncaraning Bangsa Dumunung Haneng Luhuring Budaya" sabda dari Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakoe Boewono X dari Karaton Surakarta Hadiningrat itu mempunyai arti harumnya nama dan tingginya derajat suatu bangsa terletak pada budayanya.
          Melihat keberadaan batik Surakarta pada saat ini, di rasa cukup memprihatinkan mengingat pada saat ini orang hanya bisa mengenakan, namun ternyata sedikit yang bisa memahami makna batik secara budaya. Lebih dari itu di saat orang asing tertarik untuk mempelajari berbagai hal tentang batik, justru orang Jawa sebagai pemilik sebagai pemilik budaya batik  nampaknya sedikit yang memperdulikannya.
          Sedangkan bagi orang luar termasuk orang asing atau mancanegara diharapkan buku ini dapat memberikan informasi yang lebih mendalam tentang bathik Surakarta serta dapat menumbuhkan cakrawala baru bahwa batik, khususnya Gaya Surakartan bukan sekedar pakaian namun riwayatnya memuat filosofi yang luhur
PENGERTIAN BATIK
          Para penulis buku tentang bathik terdahulu, banyak yang menuliskan kata "Bathik" dengan "Batik" atau huruf yang seharusnya "tha" ditulis dengan "ta". Dimana bathik menurut penulis bathik-bathik terdahulu diartikan menurut "Jarwadhosok" yaitu "Ngembat Titik" atau "Rambataning Titik-Titik". Dimana dari "Jarwaodhosok" tersebut dimaksudkan bahwa bathik merupakan rangkaian dari titik-titik.
          Namun demikian, pemaknaan bathik seperti itu itu penulis tidak tepat atau bahkan dapat dikatakan salah. Karena jika dilihat dari huruf Jawa yang dipergunakan dalam menuliskan bathik adalah…… bukannya…… yang menggunakan huruf ta. Sehingga kalau mengacu pada penulisan tersebut bathik kalau di "Jarwodhosok" kan akan menjadi ngembat "thithik atau rambating" thithik-thithik".
          Dilihat dari hal itu arti bathik secara "Jarwadhosok" tidaklah tepat, hanya sekedar "dolanan tembung" (bermain kata-kata) saja. Dalam budaya Jawa bathik tidak dapat diartikan hanya dengan satu dua kata ataupun padanan kata tanpa penjelasan lanjut. Karena bathik merupakan suatu hasil dari proses yang panning mulai dari melukis motif hingga pada tahap akhir proses "babaran". Yang menjadi ciri utama dari bathik adalah di dalam proses tersebut dipergunakan bahan utama berupa mori, malam (lilin) dan pewarna.
          Dalam buku "Peatingkahing Adamel Sinjang", proses pembuatan bathik ada dua macam yang keduanya memiliki perbedaan mendasar. Yang kemudian dari perbedaan proses tersebut menghasilkan dua jenis bathik, yaitu bathik carik dan bathik cap. Perbedaan yang mendasar itu terletak pada proses awal pembuatan bathik, dimana pada bathik carik pembuatan pola awal motif bathik digambar menggunakan pensil. Yang kemudian ditindas dengan " malam " menggunakan canting. Sedangkan pada bathik cap, pola atau motif bathik dibuat dengan menggunakan cap atau stamp yang terbuat dari tembaga. Cap tersebut dibasahi dengan malam dan langsung dicapkan pada mori putih, jadi tanpa menggunakan pola dari pensil dan tanpa menggunakan canthing. Dalam proses selanjutnya kedua jenis bathik ini menggunakan cara yang sama.  
FALSAFAH AGRARIS BATIK
          Erat sekali hubungan antara motif ( gambar) batik dengan lingkungan alam sekitarnya. Bentuk dan warna biji dan bungan menjadi inspirasi dari motif ( gambar) batik yang dibuat sedemikian indah oleh seniman tradisional yang kreatif menghasilkan pelbagai gambar/ motif dengan makna filosofisnya yayangh dalam. Motif/ gambar dari rambut disela-sela pelepah daun pohon kolang kaling, melahirkan motif batik kawung. Dari bungan kenikir lahir motif batik ceplok kembang kenikir, dari bunga asam lahir motif batik semen kembang asem, dari buah manggis lahir motif batik ceplok manggis, dari merekahnya bunga kecil lahirlah motif batik truntum, dari mata parang yang rusak lahirlah motif parang . Dan untuk pengisi ruang kosongnya diberi motif/ gambar bunga sirih, rembyang, cengkehan, bunga delima dan lain-lain. Warna batik yang merah putih itu asalnya darti warna gula kelapa, hijau putih dari gadung mlati , merah ibarat hutan terbakar.
          Ketika industrialisasi makin merebak, penggusuran hutan atau daerah pertanian dengan hayati dan nabatinya, juga perubahan cara berpikir masyarakat pendukung nilai-nilai filosofi batik, maka semakin jelas tergesernya filosofi agraris yang menjadi isi utama filosofi motif batik.
          Produk teknologi proses pembuatan batik printing dengan motif/gambar batik hasil rancangan komputer dengan variasi gambar dan kecerahan warna yang semarak ataupun yang norak pada dua decade terakhir ini telah menciptakan tekstil bermotif batik gaya baru.Meski pun mungkin isi filosofinya tak lagi agraris. Atau tanpa filosofi, sekedar keceriaan.Ada juga motif-motif batik dengan karya kreatif yang tidak terikat dengan filosofi agraris pada batik tradisional, seperti motif batik Wahyu tumurun, wirasat, sri kuncoro, Bokor kencana dan lain-lain.
          Setiap daerah memiliki ciri  warna khas dan motif batiknya. Kal;au di daerah Surakarta di pedalaman warna batik dikuasai sogan coklat, latar hitam/kelenga atau biru.


Filosofi Bunga Matahari



Filosofi Bunga Matahari

Pernahkah melihat bunga matahari? Ya, hari ini aku ingin bercerita tentang bunga cantik yang satu ini. Bunga matahari memiliki filosofi kesetiaan dimana ia selalu setia mengikuti arah matahari dan warna kuning identik dengan arti kehangatan dan kebahagiaan.
Tanaman bunga matahari merupakan jenis bunga majemuk yang terdiri ratusan hingga ribuan bunga kecil dalam tongkolnya. Bunga matahari memiliki prilaku khas yang selalu mengikuti arah matahari. Bunga matahari menjadi bunga nasional Ukraina dan menjadi bunga resmi negara bagian Kansas, Amerika Serikat.
Arti bunga matahari – Bunga ini dinamakan bunga matahari karena selalu setia mengikuti kemana arah matahari bergulir. Jika anda memperhatikan bunga matahari pada pagi hari maka dia akan menghadap ke timur, dimana matahari terbit dan kemudian akan terus mengikutinya seiring pergerakan matahari kearah barat, dimana matahari terbenam. Sifat dari bunga matahari ini memberikan arti kesetiaan yang patut untuk dijadikan pedoman akan arti sebuah kesetiaan. Setia dan patuh akan kodratnya tanpa adanya protes.
Siklus bunga matahari memang tidak lama. Dia cepat sekali berbunga indah, tapi hanya bersemi sekilas untuk kemudian segera gugur. Bagiku bunga matahari adalah simbol semangat dan keceriaan. Tapi bukan cepatnya layu itu yang menjadi perhatianku melainkan bagaimana bunga itu begitu cepat bersemi diusia muda. Seolah-olah aku dihadapkan pada semangat dan impianku menjadi seorang penulis yang sering kali timbul tenggelam.
Semoga semangat itu bisa muncul lagi, yang ingin aku tiru dari bunga itu adalah keceriaannya dan semangatnya, bukan cepat layunya. Kelak aku pasti bisa mewujudkan impianku. Bersemi dengan cepat, memberi semangat, inspirasi dan keceriaan.

artikel

Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur


Beberapa ahli sejarah berpendapat tentang alasan perpindahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur oleh Empu Sindok. Pertama, karena adanya serangan dari Sriwijaya sebagai bentuk hukuman kepada bhumi Jawa. Kedua, adanya bencana alam berupa gunung meletus, mengingat banyak kita temukan gunung berapi di Jawa Tengah.

Kerajaan baru yang dipindahkan Empu Sindok dari Jawa Tengah ke Jawa Timur tetap bernama Mataram. Hal itu seperti yang disebutkan dalam Prasasti Paradah yang berangka tahun 865 Saka (943 M) dan Prasasti Anjukladang yang berangka tahun 859 Saka (973 M). Letak ibu kota kerajaannya tidak ada sumber yang pasti menyebutkan. Berdasarkan Prasasti Paradah dan Prasasti Anjukladang disebutkan bahwa ibu kota Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur adalah Watugaluh. Kemungkinan ibu kota itu berada di Desa Watugaluh sekarang, dekat Jombang di tepi Sungai Brantas. Akan tetapi, berdasarkan Prasasti Taryyan yang berangka tahun 851 Saka (929 M) disebutkan bahwa ibu kota Mataram Kuno di Jawa Timur adalah Tomwlang. Diperkirakan nama Tomwlang identik dengan nama desa di Jombang (Jawa Timur).

A. Bidang Politik

Silsilah raja yang pernah memerintah Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Timur, antara lain sebagai berikut :

1.  Empu Sindok (929–947)

Setelah naik takhta pada tahun 929, Empu Sindok bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isana Wikramadharmattunggadewa. Dia naik takhta karena menikahi putri Wawa. Namun, Empu Sindok menganggap dirinya sebagai pembentuk dinasti baru, yaitu Dinasti Isana. Empu Sindok merupakan peletak batu pertama berdirinya kerajaan besar di Jawa Timur.

Empu Sindok berpengalaman mengatur kerajaan sehingga dapat menjalankan roda pemerintahan dengan lancar, aman, dan tertib. Dengan demikian, perekonomian rakyatnya pun makin baik.

Empu Sindok banyak meninggalkan prasasti. Bahkan, ia pun merestui usaha menghimpun kitab suci agama Buddha Tantrayana. Ini membuktikan betapa besar toleransinya terhadap agama lain dan perhatiannya terhadap bidang sastra. Kitab tersebut berjudul Sang Hyang Kamahayanikan yang berisi ajaran dan tata cara beribadah agama Buddha.

2.  Sri Isanatunggawijaya

Setelah Empu Sindok wafat, tampuk pemerintahan dipegang oleh putrinya, Sri Isanatunggawijaya yang menikah dengan Raja Lokapala. Perkawinan tersebut melahirkan Makutawangsawardhana yang nantinya menggantikan ibunya memerintah di Watugaluh atau di Tomwlang.

Masa pemerintahan dan apa yang diperbuat oleh kedua raja tersebut tidak banyak yang kita ketahui. Makutawangsawardhana mempunyai putri cantik, yaitu Mahendradatta (Gunapriyadharmapatni). Putri itu kemudian menikah dengan Raja Udayana dari keluarga Warmadewa yang memerintah di Bali.

3.  Dharmawangsa (991–1016)

Pengganti Raja Makutawangsawardhana ialah Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa. Siapa sebenarnya Dharmawangsa itu sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Ada yang menduga bahwa Dharmawangsa adalah kakak Mahendradatta putra Makutawangsawardhana.

Nama Dharmawangsa dikenal dari kitab Wirataparwa yang disadur ke dalam bahasa Jawa Kuno atas perintah Dharmawangsa. Kitab Wirataparwa merupakan bagian dari kitab Mahabharata yang terdiri atas 18 bagian. Isi pokok kitab itu adalah kisah perang besar antarkeluarga Bharata, yaitu Pandawa dan Kurawa. Kitab Mahabharata digubah oleh Pendeta Wyasa Kresna Dwipayana. Di samping itu, pada tahun 991 disusun kitab hukum Siwasasana.

Dharmawangsa adalah seorang raja yang cakap dan punya cita-cita besar. Ia ingin menguasai seluruh Jawa dan pulau-pulau di sekitarnya. Dharmawangsa juga ingin mengembangkan perekonomiannya melalui perdagangan laut. Untuk mewujudkan cita-citanya, Dharmawangsa segera membangun armada laut yang kuat. Pada masa itu pada saat bersamaan di Sumatra telah berdiri Kerajaan Sriwijaya yang telah berkembang besar dan menguasai jalur perdagangan Selat Malaka, Semenanjung Malaya, Selat Sunda, dan pesisir barat Sumatra. Hal itu dianggap sebagai saingan berat dan penghalang cita-cita Dharmawangsa. Oleh karena itu, Sriwijaya harus dimusnahkan.

Pada tahun 990 Dharmawangsa mengirimkan pasukannya untuk menyerbu Sriwijaya dan Semenanjung Malaya. Pasukan Dharmawangsa berhasil menduduki beberapa daerah pantai Sriwijaya dan memutuskan hubungan Sriwijaya dengan dunia luar. Kejadian itu dibenarkan oleh sumber berita dari Cina (992) yang menyebutkan bahwa utusan Sriwijaya ke Cina tidak dapat kembali (berhenti di Kanton) karena Sriwijaya diduduki musuh.

Sriwijaya menjadi lemah, tetapi secara diam-diam melakukan gerakan bawah tanah (subversi) ke Jawa dan menghasut adipati (raja bawahan) yang kurang loyal terhadap Dharmawangsa agar bersedia memberontak. Usaha itu rupanya termakan juga oleh seorang adipati yang bernama Wurawari (dari daerah sekitar Banyumas sekarang).

Dalam peristiwa penyerbuan ke Kerajaan Dharmawangsa itu ternyata ada tokoh penting yang berhasil lolos dari maut. Dia adalah Airlangga, putra Mahendradatta (dari Bali) yang saat itu sedang dinikahkan dengan putri Dharmawangsa. Airlangga berhasil menyelamatkan diri masuk hutan ditemani pengiringnya yang setia, Narottama.

Setelah keadaan kembali tenang, Airlangga didatangi oleh para pendeta dan brahmana. Mereka meminta Airlangga agar bersedia dinobatkan menjadi raja. Permintaan itu mula-mula ditolak dan baru pada tahun 1019 A

4.  Pemerintahan Airlangga

Airlangga setelah naik takhta bergelar Sri Maharaja Rakai Halu Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Awalnya, Airlangga hanya merupakan raja kecil dengan daerah kekuasaan yang sangat terbatas. Raja-raja bawahan Dharmawangsa tidak mau mengakui kekuasaan Airlangga. Setelah berjuang dan berperang selama tujuh tahun, pada tahun 1035 Airlangga berhasil menyatukan kembali wilayah kerajaannya dan pusat kerajaan dipindahkan ke Kahuripan (1037).


B. Bidang Sosial dan Budaya

Kehidupan keagamaan pada masa pemerintahan Airlangga pun diperhati- kan. Hal itu diwujudkan, antara lain dengan mendirikan tempat pemujaan dan pertapaan, misalnya Pertapaan Pucangan di lereng Gunung Penanggungan. Terjadi pula perkembangan di bidang sastra. Pada masa itu telah dihasilkan karya sastra dengan judul Arjuna Wiwaha yang ditulis oleh Empu Kanwa pada tahun 1035. Kitab itu berisi kisah kiasan terhadap kehidupan Raja Airlangga yang diidentifikasikan sebagai tokoh Arjuna. Agama yang berkembang pada saat itu ialah Hindu aliran Wisnu atau Waisnawa sehingga Airlangga dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu yang bertugas memelihara perdamaian dunia.

C. Bidang Ekonomi

Pada masa pemerintahan Dharmawangsa, pembangunan dilaksanakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pembangunan itu dilakukan dengan membuat saluran irigasi serta memperbaiki tanggul Sungai Brantas di Waringin Sapta, Pelabuhan Ujung Galuh, dan Kembang Putih di Tuban. Hal itu dimaksudkan untuk memperlancar pelayaran dan perdagangan laut dengan dunia luar, seperti India, Burma (Myanmar), dan Kampuchea.

Airlangga mempunyai beberapa orang putra. Putra sulungnya seorang putrid bernama Sri Sanggramawijaya Dharmaprasadottunggadewi. Dialah yang dicalonkan menjadi pengganti Airlangga. Akan tetapi, ia tidak bersedia dan lebih suka menjadi seorang pertapa yang kemudian terkenal dengan nama Dewi Kilisuci.


Setelah putrinya mengundurkan diri dari hal-hal duniawi, Airlangga memutuskan untuk membagi kerajaannya menjadi Jenggala dan Panjalu (Kediri). Hal itu dimaksudkan agar kelak tidak terjadi perang saudara berebut kekuasaan. Pembagian kerajaan dilakukan pada tahun 1041 oleh Empu Bharada.

perkembangan teknologi

Perkembangan Teknologi

Sebenarnya Teknologi sudah ada sejak jaman dahulu, yaitu jaman romawi kuno. Perkembangan teknologi berkembang secara drastis dan terus berevolusi hingga sekarang. Hingga menciptakan obyek-obyek, teknik yang dapat membantu manusia dalam pengerjaan sesuatu lebih efisien dan cepat. Salah satunya adalah seperti yang ada di Indonesia, yaitu fenomena mobil esemka yang diciptakan beberapa sekolah di Solo. Telah membuat inovasi mobil Nasional untuk Indonesia. Selain itu juga, ada di Sidoarjo yang memproduksi kapal laut untuk kebutuhan melaut.
Dalam bentuk yang paling sederhana, Perkembangan teknologi dihasilkan dari pengembangan cara-cara lama atau penemuan metode baru dalam menyelesaikan tugas-tugas tradisional sepertibercocok tanam, membuat baju, atau membangun rumah.
Ada tiga klasifikasi dasar dari Perkembangan teknologi yaitu :
  • Perkembangan teknologi yang bersifat netral (bahasa Inggris: neutral technological progress). Terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.
  • Perkembangan teknologi yang hemat tenaga kerja (bahasa Inggris: labor-saving technological progress). Perkembangan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam memproduksi sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.
  • Perkembangan teknologi yang hemat modal (bahasa Inggris: capital-saving technological progress). Fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modalnya.
Pengalaman di berbagai negara berkembang menunjukan bahwa adanya campur tangan langsung secara berlebihan, terutama berupa peraturan pemerintah yang terlampau ketat, dalam pasar teknologi asing justru menghambat arus teknologi asing ke negara-negara berkembang.
Perkembangan teknologi memang sangat penting untuk kehidupan manusia jaman sekarang. Karena teknologi adalah salah satu penunjang Perkembangan manusia. Di banyak belahan masyarakat, teknologi telah membantu memperbaiki ekonomi, pangan, komputer, dan masih banyak lagi.
Di lain pihak suatu kebijaksanaan ‘pintu yang lama sekali terbuka’ terhadap arus teknologi asing, terutama dalam bentuk penanaman modal asing (PMA), justru menghambat kemandirian yang lebih besar dalam proses pengembangan kemampuan teknologi negara berkembang karena ketergantungan yang terlampau besar pada pihak investor asing, karena merekalah yang melakukan segala upaya teknologi yang sulit dan rumit.
Ini menjadi bukti bahwa memang teknologi sudah menjadi kebutuhan dan merata di setiap sektor kehidupan manusia. Terlebih setelah adanya penemuan komputer dan laptop, yang sekarang hampir semua pekerjaan manusia memiliki hubungan dengan komputer ataupun laptop. Sehingga pantas jika komputer adalah penemuan yang paling mutakhir dan yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia.


PUISI (RINDU SAHABAT)

RINDU SAHABAT


Dikala malam datang..
Disaat itulah aku selalu merindukanmu..
Kamu yang dulu selalu bersamaku..
Kini kau telah jauh di negeri orang..
Kita terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh..

Andai kau tau..
Aku disini selalu merindumu..
Aku rindu pada sosok dirimu yang begitu ceria..
Entah gimana keadaanmu sekarang..

Hanya potret gambarmu yang bisa menepis rindu ini..
Kau adalah sahabat terbaikku..
Jangan lupakan aku..

Walau raga kita jauh, tetapi kita tetap satu tujuan..

puisi

PERPISAHAN

Tak terbayang olehku
Waktu ini kan terjadi padaku
Tak terduga dalam benaku
Waktu kejam kan melanda jiwaku

Perpisahan ini kan meneteskan air mata
Dalam kesedihan di selimuti kegembiraan
Perpisahan ini kan mengukir kenangan
Dalam suka maupun duka

Bertahun lamanya kita bersama
Menggali bakat tuk kedepan
Perpisahan ini kan merindukan sesama
Perpisahan ini kan menumbuhkan kesadaran akan arti kebersamaan

Berpisah akhir pertemuan
Berpisah akhir kesenangan
Berpisah akhir kenangan
Berpisah tiada arti yang menyenangkan

Peluk eratlah semua orang disisimu
Peluk eratlah semua sahabat-sahabat tercintamu
Hingga kau teteskan air mata kerinduan
Hingga kau diam membisu

Karena ku tahu
Tak kan ada waktu lebih tuk kita
Tak kan berarti hidup ini tanpa ada pertemuan dan perpisahan


FILOSOFIE POHON PALEM


Berbagai jenis tumbuhan menghiasi alam bumi ini, khususnya di  Indonesia. Selain kekayaan alam hewani, Indonesia juga kaya akan kekayaan alam nabati. Beragam pohon tumbuh di Indonesia. Mulai pohon dengan batang kecil hingga batang yang besar. Selain pohon dengan daun yang lebat hingga pohon yang memiliki daun sedikit. Begitu pula pohon dengan akar yang kuat dan besar, adapula pohon dengan akar kecil dan kokoh.
Beragam pohon yang tumbuh juga memiliki karakteristik tumbuh di tanah yang berbeda-beda. Singkat kata, setiap pohon yang tumbuh akan dipengaruhi oleh struktur tanah atau lokasi wilayah tertentu. Misalnya, pohon kelapa biasanya tumbuh subur didaerah pedesaan ataupun dekat pantai. Begitu pula pohon yang lainnya akan menyesuaikan dengan struktur tanah yang ada. Apabila suatu tanaman dipaksakan ditanam di lokasi yang bukan habitatnya, maka tanaman tersebut akan layu, bahkan lama-kelamaan tanaman tersebut akan mati. Sebaliknya, apabila suatu tanaman ditanam ditanah yang mendukung habitatnya terkait dengan struktur tanah yang bagus, maka tanaman tersebut akan tumbuh subur.
Umummnya di area sebuah hotel dekat pantai ada pohon yang menarik untuk diamati. Pohon tersebut tidak hanya indah tetapi juga memiliki arti. Pohon tersebut adalah pohon palem. Pohon ini biasanya ada disebuah tempat wisata. Namun, pohon palem ini juga sering dijumpai di perkotaan dan biasanya di tanam di pekarangan sebuah rumah.
Pohon palem ini merupakan pohon yang memiliki karakteristik atau ciri tersendiri. Memang sekilas mirip dengan pohon kelapa karena memiliki struktur batang yang menjulang tinggi keatas. Namun, pada dasarnya pohon tersebut tidak sama dengan pohon kelapa. Struktru batang pohon ini biasanya tinggi ke atas. Daun yang berada di atas juga umumnya lebar dan banyak. Selain itu, pohon tersebut juga ditopang oleh akar yang kuat.
Dalam suatu kesempatan, saya bersama teman satu kantor berkunjung ke sebuah pantai. Di sekeliling pantai tersebut nampak pohon palem menghiasi halaman sebuah hotel. Menariknya, mengapa pohon itu kuat ditengah terjangan angin laut yang kencang. Pohon tersebut memiliki banyak sisi positif untuk meningkatkan kualitas unggul seseorang.
Pertama, pohon tersebut tentunya memiliki akar yang kuat. Tanpa akar yang kuat, pohon tersebut tidak mungkin dapat bertahan ditengah terjangan angin kencang. Akarnya telah mengakar kuat dalam struktur tanah sehingga mampu mengokohkan pondasi  batangnya yang tumbuh tinggi ke atas. Hal ini sama dengan kondisi kehidupan manusia. Manakala setiap individu memiliki pondasi yang kuat, maka ia tidak akan mudah goyah oleh angin. Sebagai contoh, apabila ada angin yang mengarah ke barat maka individu tersebut tetap pada posisinya dan tidak terpengaruh oleh arah angin kehidupan. Pondasi kehidupan setiap individu adalah keimanan dan ketakwaan kepada ALLAH SWT. Manakala setiap manusia memiliki pondasi keimanan kuat maka ia akan mendapat keselamatan dunia dan akherat karena ia tidak akan mudah terpengaruh angin negatif kehidupan.
Kedua, pohon palem itu memiliki struktur batang yang proporsional. Artinya, pohon batang tersebut tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Selain itu, pohon tersebut struktur bawah batangnya sama hingga bagian paling atas batangnya. Pohon itu tidak memiliki perbedaan ukuran dalam struktur batangnya. Hal ini juga memiliki nilai kehidupan. Setiap individu hendaknya menjalani kehidupan secara proporsional. Seperti halnya, sunnah nabi mengenai sebelum dan sesudah makan. Berhenti makan sebelum kenyang dan makan setelah merasakan lapar. Hal ini memiliki makna salah satunya manusia agar tidak serakah, tamak dan individu memiliki fisik yang proporsional. Apabila manusia menjalani kehidupan secara proporsional sesuai hak dan kewajibannya, maka individu tersebut tidak akan merugikan atau mengambil hak milik orang lain. Apabila seseorang tidak proporsional dalam menjalani denyut aktivitas atau pekerjaan, maka individu tersebut akan merugikan masyarakat, misalnya korupsi. Korupsi terjadi karena individu yang melakukan tersebut memiiliki salah satu sifat yang negatif,yakni serakah, sehingga kehidupannya akan merugikan rakyat karena hidupnya tidak proporsional.
Ketiga, Daun pohon palem berada di ujung batang paling atas. Salah satu fungsi daun pohon itu adalah untuk membuat suasana teduh yang berada di bawahnya. Apabila seseorang berada di bawah pohon palem, maka mereka akan merasakan tempat yang nyaman. Setiap manusia hendaknya juga memiliki sifat seperti daun pohon palem, khususnya seorang pemimpin. Pasalnya, setiap pemimpin hendaknya menjadi pelindung dan pengayom bagi orang yang berada dibawahnya. Pemimpin tersebut harus dapat melindungi dari “panas dan hujan” kehidupan. Misalnya, setiap ada permasalahan, seorang pemimpin harus berani bertanggung jawab dan memberikan solusi atas masalah yang sedang dihadapi.
Dalam pada itu, selain membuat teduh lingkungan sekitarnya,  pohon palem merupakan salah satu pohon yang menarik.  Pohon tersebut menarik untuk dilihat karena faktor keindahannya. Sesuatu yang indah pasti akan menarik perhatian. Begitu pula manusia, setiap individu akan menarik perhatian tatkala individu tersebut memiliki keindahan. Keindahan tersebut tidak hanya terpancar dari faktor eksternnya,fisiknya, namun juga harus terpancar dari dalam hati, faktor internnya. Seseorang akan selalu memiliki cahaya keindahan dalam denyut sosial, manakala orang tersebut selalu berbuat kebaikan dan indah dalam perilakunya. Bagaimana anda menyikapinya?